603509740p
Jurus memperkuat industri baja nasional dalam percepatan pengembangan infrastruktur
Jurus memperkuat industri baja nasional dalam percepatan pengembangan infrastruktur
October 1, 2020

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Seiring dengan meningkatnya pembangunan infrastruktur, pemerintah terus berupaya membenahi dan memperkuat industri baja nasional dengan mewujudkan negara mandiri dari impor baja. Namun yang saat ini tengah dialami hampir seluruh Negara di dunia adalah minimnya permintaan akan produk baja karena dampak pandemi Covid-19.

Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, Taufiek Bawazier mengatakan di era Covid-19 semua Negara berupaya mencari cara agar permintaan di industry baja meningkat.

 “Di Amerika, ada upaya dari industri bajanya menyurati parlemen untuk mengeluarkan semacam infrastruktur bill yang tujuannya untuk mendorong industri baja agar bergerak. Karena pada saat Covid-19 hampir seluruh industri baja ini mengalami slow down dan kemudian banyak dijumpai tenaga kerja yang mungkin dijaga, agar tidak di PHK. Ini satu upaya yang besar, jadi distruption dari supply chain secara global,” terangnya dalam dalam keterangan tertulisnya, Kamis (1/10).

Taufiek menjelaskan negara-negara yang berkonsentrasi di industri baja, menggunakan skema stimulus untuk membangkitkan industri baja nasionalnya. Dengan skema stimulus ini, diharapkan permintaan baja tumbuh sehingga semua ekosistem yang ada di industri baja ini juga ikut bergerak.

“Pemerintah China juga sama, mengeluarkan bounce sampai sekitar US$ 326 miliar. Jadi pemerintah pusat dan derah, untuk proyek pembangunan hampir 13 airport, 9 railway, semua ditujukan untuk membangkitkan permintaan baja. Dan estimasi dari proyek yang seperti itu, 21 juta ton dapat terserap di proyek-proyek tersebut,” urainya.

Ia menambahkan, jika diliat dari peta dunia sebanyak 52% pengguna baja itu di sektor konstruksi dan bangunan. Kemudian, 16% equipment/machining, 12% di sector otomotif, 10% di house hold, dan 3% di sektor lainnya seperti alat elektronik. Karenanya, infrastruktur menjadi penting untuk di dorong oleh dana pemerintah.

Selain itu, instrument lain dalam memperkuat industri baja nasional adalah SNI produk baja dan peningkatan TKDN. Ia menilai, secara teknik, SNI merupakan instrument yang cukup bagus untuk membendung, impor-impor produk yang dihilir.

“Kalau bahan baku saya kira itu kan hanya di pabrik. Kalau konsepnya SNI itu kan beredar di pasar. Itulah yang menjadi fokus. Industri yang paling hilir yang menjadi perhatian kami harus SNI. Untuk TKDN juga sudah kami upayakan sehingga produksi itu punya TKDN di atas 40% otomatis pemerintah BUMN daerah itu harus membeli produk-produk yang dihasilkan dari dalam negeri. Itu yang menjadi konsentrasi kami,” paparnya.

Namun, ia juga menegaskan pentingnya industri baja melakukan inovasi. Hal itu agar industri baja nasional tetap berkelanjutan. Menurutnya, persepsi konsumen untuk membeli sebuah produk harus dibangun agar industri ini tetap tumbuh.

Dengan begitu, Taufiek bilang ada 4 hal yang menjadi fokus dalam penanganan industri baja. Pertama, inovasi jadi bagian kunci keberlangsungan industri baja nasional. Kedua, pemerintah, baik pusat, daerah harus mengalokasikan minimal proyek-proyek infrastruktur yang menjadi bagian penting penyerapan baja nasional.

Ketiga, inovasi bagian yang tidak terpisahkan di dalam membangkitkan ekonomi di era pandemi Covid-19 ini. Keempat adalah penegakan SNI, instrument-instrumen lain, termasuk TKDN menjadi kunci juga untuk menumbuhkan industri baja agar tetap terjaga dari berbagai barang impor yang mungkin seharusnya bisa diproduksi.

"Konsep yang kami bangun adalah bagaimana utilitas industri ini tetap tumbuh, minimal tidak jatuh. Jadi, tumbuh ini karena demand yang ada juga tetap bergerak,” ujarnya lagi.

Stephanus Koeswandi, Vice President PT Tata Metal Lestari memaparkan strategi pelaku usaha dalam menjaga industri baja nasional dalam percepatan infrastruktur di masa pandemi. Ia menjelaskan ada 2 strategi yang dapat dilakukan pengusaha dalam kondisi ini.

Pertama adalah bertahan dengan menjaga kesehatan dan keamanan kerja di lingkungan industri baja nasional, dan menjaga perekonomian dan memproteksi industri baja nasional dari baja impor.

Kedua, maju ke depan dengan mempercepat inovasi dalam industri baja, inovasi berbasis metal secara berkesinambungan, kemudian meningkatkan standard dan yang terakhir memperkuat UMKM dan IKM khususnya untuk baja konstruksi.

Stephanus menambahkan, baja merupakan Mother of Industry dari sebuah negara. Karenannya ia berharap dukungan untuk dapat menjaga dan meningkatkan standarisasi di industri ini.

Salah satunya dengan percepatan kebijakan wajib SNI khususnya untuk profil baja ringan guna melindungi industri baja dalam negeri dari produk impor.

Menurutnya, SNI Bagi industri baja sangat penting, khususnya untuk konsumen akhir melihat spesifikasi yang tertera jelas dalam setiap produk untuk menjamin keamanan bangunan.

"Industri ini ibaratnya sedang tidak sehat sehingga membutuhkan obat untuk jangka pendek seperti safeguard jangka menengah seperti SNI dan jangka panjang seperti kepastian energi dan lain sebagainya," ujarnya.

Menanggapi hal ini, Kepala Badan Standarisasi Nasional Kukuh S Achmad menyampaikan, tahun ini masih ada 9 Daftar Program Nasional Regulasi Teknis 2019-2020 terkait baja untuk disahkan.

Ia menjelaskan, nantinya jika SNI untuk 9 produk baja tersebut disahkan diharapkan dapat menjadi jawaban pelaku industri atas persoalan daya saing dan kemandirian selama ini. Pasalnya, produk impor memang perlu diatur untuk menjaga produk dalam negeri.

"SNI produk baja ini sedang dirumuskan bersama Kementerian Perindustrian, mudah-mudahan ini yang diharapkan industri," tutupnya.


https://industri.kontan.co.id/news/jurus-memperkuat-industri-baja-nasional-dalam-percepatan-pengembangan-infrastruktur?page=3

 

Related Articles