Bisnis.com, JAKARTA — Emiten baja pelat merah, PT Krakatau
Steel (Persero) Tbk. (KRAS) tercatat membalikkan posisi rugi menjadi laba
bersih pada kuartal I/2026 di tengah program efisiensi ketat yang dijalankan
manajemen. Berdasarkan laporan keuangan akhir Maret 2026, KRAS membukukan laba
bersih sebesar US$2,58 juta (sekitar Rp43,60 miliar, dengan kurs Rp16.900 per
dolar AS) pada kuartal I/2026.
Capaian ini berbanding terbalik dari kuartal I/2025 yang
mencatat rugi bersih US$46,90 juta (sekitar Rp793,61 miliar). Pemulihan laba
bersih ini didorong oleh pertumbuhan pendapatan sebesar 11,76% secara tahunan
(year on year/YoY) menjadi US$262,36 juta (sekitar Rp4,43 triliun). Pendapatan
tersebut ditopang oleh segmen produk baja yang membukukan US$256,64 juta
(sekitar Rp4,34 triliun), segmen sarana infrastruktur menyumbang US$77,47 juta
(sekitar Rp1,31 triliun), dan segmen rekayasa dan konstruksi berkontribusi
senilai US$3,3 juta (sekitar Rp55,77 miliar).
Di sisi lain, perseroan mampu menekan kenaikan beban pokok
pendapatan yang hanya tumbuh tipis 1,07% YoY menjadi US$224,18 juta (sekitar
Rp3,79 triliun). Alhasil, laba kotor KRAS melonjak drastis 194,74% secara
tahunan menjadi US$38,18 juta (sekitar Rp645,24 miliar). Direktur Utama
Krakatau Steel, Akbar Djohan, menyatakan hasil tersebut merupakan indikator
bahwa program transformasi dan efisiensi perusahaan mulai memberikan dampak
terhadap stabilitas keuangan dan operasional. “Kinerja kami mulai meningkat
secara bertahap di awal tahun ini. Namun, kami tetap memandang bahwa program efisiensi
masih menjadi kunci penting dalam menjaga momentum ini agar selalu konsisten
dan berkelanjutan,” ujar Akbar dalam diskusi yang diselenggarakan di Jakarta,
Senin (27/4/2026).
Hingga Maret 2026, total produksi Krakatau Steel mencapai
360.000 ton. Kontribusi utama berasal dari pabrik Hot Strip Mill (HSM) sebesar
230.000 ton dan pabrik Cold Rolling Mill (CRM) sebesar 130.000 ton.
Optimalisasi ini merupakan bagian dari komitmen perseroan dalam menjalankan
program penguatan permodalan bersama Danantara. Dengan fondasi yang lebih
sehat, emiten baja ini menargetkan laba bersih sebesar US$129 juta (sekitar
Rp2,18 triliun) pada 2026. Per Maret 2026, total aset perseroan kini tercatat
sebesar US$2,91 miliar (sekitar Rp49,18 triliun) atau naik 5,23% (year to date/YtD).
Rinciannya, liabilitas tumbuh 6,10% menjadi US$2,16 miliar
(sekitar Rp36,50 triliun), sedangkan ekuitas mencapai US$745,67 juta (sekitar
Rp12,60 triliun) atau naik 2,78%. Sepanjang 2026, KRAS membidik pemulihan
kinerja dengan target pendapatan Rp20 triliun dan torehan laba bersih minimum
10% dari total pendapatan. Akbar menjelaskan target ditetapkan seiring rencana
pengoperasian normal kembali fasilitas pabrik perseroan yang sempat terkendala.
Menurutnya, jika operasional berjalan sesuai rencana, KRAS optimistis mampu mencatatkan standar minimum laba bersih sekitar Rp2 triliun. “Dari pendapatan Rp20 triliun itu dikalikan 10% seharusnya menjadi standar minimum laba bersih daripada Krakatau Steel di tahun 2026,” pungkasnya. Dari sisi volume, emiten baja pelat merah tersebut menargetkan penjualan domestik sebesar 1,2 juta ton per tahun. Meski secara kapasitas terpasang perseroan mampu mencapai 3 juta ton, Akbar menyebut manajemen tetap bersikap rasional dengan mempertimbangkan ketersediaan bahan baku.
https://market.bisnis.com/read/20260428/192/1969833/krakatau-steel-kras-berbalik-laba-rp43-miliar-kuartal-i2026#goog_rewarded