KONTAN.CO.ID
– JAKARTA. Kamar
Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) menilai penutupan operasional PT Krakatau
Osaka Steel (KOS) bukan kasus yang berdiri sendiri, melainkan mencerminkan
tekanan yang lebih luas di sektor manufaktur, khususnya industri baja.
Wakil Ketua
Umum Koordinator Bidang Organisasi, Komunikasi dan Pemberdayaan Daerah
Kadin Erwin Aksa mengatakan, kondisi tersebut menjadi indikasi adanya
persoalan struktural di industri hulu.
“Penutupan pabrik KOS kami lihat bukan kasus yang berdiri sendiri, tetapi
indikasi tekanan yang lebih luas di sektor manufaktur, khususnya industri
baja,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Selasa (5/5/2026).
Menurutnya,
tekanan terhadap industri baja dipicu oleh beberapa faktor utama. Pertama,
banjir impor baja murah, terutama dari Tiongkok, yang menekan harga domestik
hingga di bawah biaya produksi lokal.
Kedua,
kondisi overcapacity global
yang mendorong produsen luar negeri agresif mencari pasar ekspor. Ketiga,
tingginya biaya produksi dalam negeri, mulai dari energi, logistik, hingga
bahan baku.
“Ini bukan
semata persoalan satu perusahaan, tetapi mencerminkan tantangan daya saing
industri yang perlu ditangani secara sistemik,” jelasnya.
Penutupan
operasional KOS sendiri menjadi sorotan publik setelah beredarnya video
perpisahan karyawan yang viral di media sosial. Video tersebut memunculkan
spekulasi adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) massal.
Kadin menilai
kondisi ini juga menjadi sinyal meningkatnya risiko PHK di sektor manufaktur.
Dalam jangka
pendek, potensi PHK dinilai masih tinggi, terutama pada industri padat karya
seperti tekstil, alas kaki, dan furnitur yang lebih dulu tertekan.
Sementara itu,
industri berbasis komoditas dan intermediate goods seperti baja mulai terdampak
akibat tekanan impor dan melemahnya permintaan global.
Kadin juga mencermati
tren penyesuaian tenaga kerja yang dilakukan secara bertahap oleh perusahaan,
bukan dalam satu gelombang besar. Meski demikian, dampak akumulatifnya tetap
signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja.
“Jika tidak
ada intervensi yang kuat, tekanan ini bisa merembet lintas sektor manufaktur,
terutama yang memiliki margin tipis,” kata Erwin.
Dari sisi
kebijakan, Kadin menilai pemerintah telah mengambil sejumlah langkah seperti
pengendalian impor melalui trade remedies, dorongan hilirisasi, serta pemberian
insentif fiskal.
Namun, langkah
tersebut dinilai belum cukup untuk meredam tekanan global.
Implementasi
pengendalian impor dinilai masih perlu diperkuat, terutama untuk menghadapi
praktik dumping dan perdagangan tidak sehat.
Selain itu,
biaya logistik dan energi domestik yang masih tinggi juga menjadi hambatan daya
saing industri nasional.
Ke depan,
Kadin mendorong pemerintah untuk memperkuat kebijakan trade defense secara
lebih agresif, mempercepat reformasi biaya ekonomi tinggi, serta memberikan
insentif yang lebih terarah bagi industri terdampak.
https://industri.kontan.co.id/news/kadin-penutupan-krakatau-osaka-steel-alarm-tekanan-industri-baja